Profil

 

II. Awal Berdirinya Perkumpulan Strada
br>
Pada tahun 1901 Pemerintah Hindia Belanda menerapkan Politik Ethis dengan salah satu tujuan untuk memajukan pendidikan. Sebelum politik tersebut, sesungguhnya di Hindia Belanda sudah ada beberapa lembaga pendidikan. Sejak saat itu di Indonesia bermunculan lembaga pendidikan yang bercorak umum, walaupun wilayah dan jumlahnya masih sangat terbatas.
br>
Vicariat Apostolik Batavia sebagai Gereja lokal sangat merasakan kebutuhan lembaga pendidikan di wilayahnya. Pada waktu itu Pastor Y. Hubbe, SJ mengajak dan mendesak kedua rekannya, yakni Pastor A. Van Hoof, SJ dan Pastor J. Van Rijckevorsel, SJ untuk mendirikan lembaga pendidikan. Mereka kemudian dikenal sebagai ‘tiga serangkai’ yang sepakat mendirikan Strada Vereeniging (Perkumpulan Strada) yang mereka tetapkan tanggal 24 Mei 1924. Segala upaya yuridis-administratif mereka lakukan dan ajukan kepada pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah menyetujui berdirinya Strada Vereeniging di Batavia. Persetujuan ini dicantumkan dalam lembaran Negara nomor 1A dengan pengesahan Statuten van de Strada Vereeniging untuk melakukan pelayanan amal kasih dalam pendidikan dan pengajaran yang diumumkan kepada masyarakat melalui Javasche Caurant Nomor 47 tahun 1924 pada 30 Mei 1924. Mengapa Perkumpulan Strada memilih Vereeniging (Perkumpulan), bukan Stichting (Yayasan)? Para pendiri awal sudah memikirkan jauh ke depan bahwa ‘perkumpulan’ kedudukannya lebih kuat dalam pemerintahan Hindia Belanda dibandingkan dengan yayasan. Di samping itu, perkumpulan bukan menjadi objek, melainkan subjek atas hak milik tanah dan bangunan, sementara yayasan tidak demikian.
br>
III. Nama Lembaga Pendidikan
br>
Karya pendidikan yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Strada merupakan partisipasi masyarakat Katolik Keuskupan Agung Jakarta dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai wujud nyata komitmen dan konsistensinya terhadap implementasi Undang-Undang Dasar 1945. Perkumpulan Strada yang hadir di bumi Nusantara ini sejak 24 Mei 1924 membawa amanat rasuli Gereja yang diterima dari Pendiri Ilahinya, yakni Kristus Sang Guru, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat. 28: 19-20). Melalui sabda-Nya ini, kita semakin diyakinkan bahwa karya kerasulan melalui bidang pendidikan merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas Gereja untuk mewartakan penyelamatan Allah kepada semua manusia dan memulihkannya di dalam Kristus. Kehadiran Perkumpulan Strada di tengah-tengah masyarakat sungguh mengembara.
br>
Pada tahun 1924, tanah yang kini terletak di Jl. Gunung Sahari 87 dan 88 dibeli oleh Perkumpulan Strada, namun pada tahun 1926 tanah yang terletak di Jl. Gunung Sahari 87 dijual kepada Bank (kini Bank BTPN) sehingga tanah milik Perkumpulan Strada kini tinggal yang Jl. Gunung Sahari 88. Gedung kuno tersebut merupakan peninggalan bersejarah dari akhir abad XVIII dan pernah menjadi bagian dari suatu rumah besar yang digunakan oleh Gubernur Jenderal Daendels (1808 – 1810) bila sedang berada di Batavia. Gedung itu lama digunakan sebagai Kantor Strada Pusat. Pada bulan Juli 2011, gedung tua itu, bersama TK Strada John Berchmans, SD Strada van Lith I, dan SMP Strada Mardin Utama I, dibongkar dan dibangun gedung baru. Dulu di atas atap gedung tersebut ada patung singa Belanda kecil. Pada tahun 1924 rumah besar ini pernah digunakan untuk menampung anak-anak yang diasuh oleh Leon Convict. Pada zaman Jepang, gedung ini dikuasai oleh Jepang, namun berkat kegigihan perjuangan Mgr. P. Willekens, SJ bersama Ibu Manuputty dan Sr. Loyola, OSU dalam mengusahakan perizinan, maka gedung ini “terselamatkan” dari penguasa Jepang yang kemudian digunakan lagi sebagai sekolah.

Pencarian

semua pengumuman

Pengumuman

03 Juli 2017
Liburan Akhir Sekolah
semua agenda

Agenda

Jajak Pendapat

Berapa Hari Kalian Ingin Belajar Maksimal Di Sekolah ?
5 Hari
6 Hari
7 Hari

Lihat